Rupiah Terburuk di Asia, Selat Hormuz Ditutup Lagi
Jumat lalu (10/7) IHSG, rupiah, dan SBN kompak ditutup menguat tipis — tapi jangan senang dulu: dalam sepekan penuh, rupiah justru jadi mata uang terburuk di Asia (-0,55%) sementara yuan China makin perkasa. Penyebab utama: eskalasi baru perang AS-Iran (Iran umumkan blokade ulang Selat Hormuz), sikap hawkish The Fed di bawah Ketua baru Kevin Warsh, dan lesunya permintaan batu bara dari China yang menyeret komoditas andalan RI. Data paling krusial pekan ini: inflasi konsumen (CPI) AS Juni, rilis Selasa (14/7) — kalau lebih panas dari ekspektasi 3,9%, peluang kenaikan suku bunga The Fed Juli (kini 26,2% menurut CME FedWatch) bisa melonjak dan menekan balik aset berisiko RI.
Strip Data Pasar · Closing Jumat, 10 Juli 2026
1. Selat Hormuz Ditutup (Lagi), Minyak Jadi Senjata
Pada Minggu (12/7), AS dan Iran kembali saling serang. Iran menyerang fasilitas militer AS di beberapa negara Teluk sekaligus mengumumkan penutupan kembali Selat Hormuz — jalur yang dilalui sekitar 20% perdagangan minyak dan LNG dunia. Serangan Iran meluas ke Qatar dan Uni Emirat Arab, sementara CENTCOM menyatakan telah menghantam lebih dari 300 target militer Iran dalam tiga hari terakhir.
Menariknya, harga minyak justru turun dari puncaknya Jumat lalu — WTI melemah ke US$71,57/barel dan Brent ke US$75,72/barel — karena pasar sempat menimbang risiko bahwa inflasi lebih tinggi justru akan menekan pertumbuhan global. Tapi secara mingguan, Brent tetap melesat 5,4% akibat kekhawatiran pasokan.
Prinsip “be greedy only when others are fearful” ala Warren Buffett sering dipakai untuk momen seperti ini, tapi perlu diterapkan jujur: ini baru valid kalau harga aset berisiko sudah jatuh di bawah nilai wajarnya (ada margin of safety / bantalan keamanan harga). Kalau eskalasi Hormuz berlanjut, sebagian “diskon” di aset EM termasuk RI bisa jadi risk premium (bonus imbal hasil atas risiko) yang dibenarkan — bukan salah harga.
2. CPI AS Selasa Ini Jadi Penentu Arah The Fed
Inflasi AS Mei sudah naik ke 4,2% (dari 3,8% di April) — level tertinggi sejak April 2023 — didorong lonjakan harga energi 23,5% akibat konflik Iran. Konsensus pasar memproyeksikan CPI Juni yang dirilis Selasa (14/7) berada di 3,9%. Sehari setelahnya, PPI (inflasi produsen) juga rilis, dengan ekspektasi 6,3% setelah Mei tercatat 6,5% — level tertinggi sejak November 2022.
Bersamaan dengan itu, Ketua The Fed Kevin Warsh — yang baru menjabat sejak rapat 16-17 Juni — akan bersaksi di hadapan Kongres Selasa-Rabu. Risalah rapat Juni menunjukkan sejumlah pejabat The Fed melihat alasan untuk menaikkan suku bunga segera karena kekhawatiran inflasi (hawkish, sikap condong ke arah suku bunga ketat). Namun berdasarkan CME FedWatch Tool, peluang kenaikan 25 bps pada rapat 28-29 Juli justru turun ke 26,2% dari 31% sesi sebelumnya — meski masih jauh lebih tinggi dari 18,2% pekan sebelumnya.
3. Rupiah Terburuk se-Asia, Tapi IHSG Tetap Hijau — Kok Bisa?
IHSG ditutup di 5.924,36 pada Jumat (10/7), naik 0,20% harian dan 0,83% dalam sepekan (dari 5.875,78), didukung sektor barang baku, properti, energi, dan finansial — sementara infrastruktur dan teknologi tertekan paling dalam (data Refinitiv). Namun pasar masih mencatat net outflow asing Rp421,70 miliar pada sesi itu, menjadikan outflow year-to-date mencapai Rp76,15 triliun (data BEI).
Sementara itu, meski rupiah menguat 0,14% ke Rp18.045/US$ pada Jumat — membalikkan posisi terlemah sebulan terakhir — dalam sepekan penuh rupiah justru ambruk 0,55%, menjadi mata uang terburuk di Asia. Won dan yuan China justru menguat, dengan yuan naik sekitar 3% sepanjang tahun ini setelah PBOC (bank sentral China) menetapkan kurs referensi di bawah CNY 6,80/US$ untuk pertama kalinya sejak 2023 — sinyal bahwa otoritas China nyaman dengan penguatan yuan lebih lanjut.
Chief Economist Trimegah Sekuritas, Fakhrul Fulvian, mengingatkan: “Indonesia masih membutuhkan tambahan arus modal asing yang cukup besar agar keseimbangan neraca pembayaran semakin kuat. Oleh karena itu kita tidak boleh cepat berpuas diri.” Ini bukan basa-basi — dengan outflow YTD Rp76 triliun dan defisit APBN 2026 yang diproyeksikan melebar ke 2,85% dari PDB (mendekati batas UU 3%, dari target awal 2,68%), ruang bagi rupiah untuk menguat signifikan tanpa bantuan modal asing cukup terbatas.
Di sisi lain, ahli strategi Bank of America, Michael Hartnett, menilai portofolio yang terdiversifikasi ke pasar berkembang (EM), saham kecil, dan komoditas — bukan cuma saham AS — mencatat return terbaik sejak 2021. Ini argumen bull untuk EM termasuk RI: valuasi IHSG yang sudah terkoreksi jauh dari basis awal tahun bisa menarik bagi investor global yang mencari diversifikasi keluar dari konsentrasi saham AS.
4. Yield SBN Turun — Investor Mulai Berburu Kupon Tinggi
Yield (imbal hasil) SBN tenor 10 tahun turun ke 7,221% pada Jumat (10/7), dari 7,281% sehari sebelumnya. Yield turun berarti harga obligasi naik — sinyal bahwa investor mulai kembali membeli SBN di tengah gejolak global.
Dengan BI Rate berada di 5,75% (dinaikkan 25 bps pada rapat Juni untuk menjaga stabilitas rupiah dan inflasi dalam target 2,5%±1% hingga 2027), yield SBN 10 tahun di atas 7,2% menawarkan selisih (spread) yang cukup lebar — salah satu daya tarik utama SBN bagi investor domestik maupun asing saat ini, asalkan sentimen risiko global tidak memburuk drastis pekan ini.
5. CPO Ketolong B50, Batu Bara Kena Getah China
Harga CPO acuan Malaysia ditutup RM4.476/ton pada Jumat, turun 1,76% harian tapi masih positif 0,4% secara mingguan — kinerja mingguan positif pertama setelah dua pekan melemah. Pendorongnya: Kementerian ESDM baru saja meresmikan mandat biodiesel B50 (campuran 50% CPO ke solar), yang menurut Menteri ESDM Bahlil Lahadalia berpotensi meningkatkan penggunaan CPO domestik menjadi 16,3-17 juta ton dari 15,2 juta ton — bahkan Presiden Prabowo sudah menugaskan riset lanjutan untuk B60. Namun, pedagang Iceberg X David Ng mengingatkan stok CPO Malaysia naik 4,78% ke 2,54 juta ton pada Juni, yang menahan laju kenaikan harga lebih lanjut.
Sebaliknya, harga batu bara acuan Newcastle melemah 2,2% ke US$128,75/ton Jumat lalu, turun 0,19% dalam sepekan, akibat permintaan China — importir utama batu bara dunia — yang melemah cepat dalam dua pekan terakhir. Stok pembangkit listrik China berlimpah, curah hujan tinggi meningkatkan produksi listrik tenaga air, dan konsumen industri hanya membeli sesuai kebutuhan jangka pendek. Kabar baiknya: laporan Kementerian Industri Australia memproyeksikan harga batu bara metalurgi relatif stabil hingga 2031, dengan India dan Asia Tenggara jadi sumber pertumbuhan permintaan baru seiring produksi baja bergeser dari China.
Apa yang Menarik untuk Dikoleksi?
Yield 7,221% dengan tren menurun (harga naik) menawarkan selisih menarik di atas BI Rate 5,75%. Ini salah satu instrumen fixed income dengan imbal hasil riil terbaik di kawasan saat ini, selama sentimen global tidak memburuk drastis.
Emas turun 1,31% sepekan karena ekspektasi The Fed yang hawkish menekan daya tariknya dibanding aset berimbal hasil. Tapi cadangan emas bank sentral China naik terbesar dalam 2,5 tahun terakhir pada Juni — sinyal permintaan struktural jangka panjang masih kuat. Kalau belum punya emas: ini bukan saat menambah dalam jumlah besar sekaligus — tunggu hasil CPI AS Selasa (14/7) dulu sebagai konfirmasi arah. Kalau sudah punya emas untuk hedging inflasi/geopolitik, tidak perlu dijual — perannya sebagai pelindung nilai jangka panjang belum berubah, terlepas dari koreksi harga sepekan ini.
IHSG naik 0,83% sepekan tapi masih tertekan outflow asing Rp76 triliun YTD dan defisit fiskal yang melebar ke 2,85% dari PDB. Valuasi yang jauh terkoreksi dari basis awal tahun bisa menarik bagi pemburu diversifikasi EM (argumen Hartnett/BofA), tapi Trimegah mengingatkan RI masih butuh modal asing besar untuk memperkuat neraca pembayaran — jadi ini bukan momen “beli rata” seluruh IHSG.
Rupiah jadi mata uang terburuk di Asia sepekan ini (-0,55%) meski sempat menguat tipis Jumat. Ini bukan sinyal untuk memburu atau melepas USD berdasarkan pergerakan sepekan ini — pelemahan rupiah belum cukup besar/jelas arahnya untuk jadi dasar keputusan valas baru. Kalau Anda sudah punya alokasi USD untuk hedging kebutuhan riil (pendidikan luar negeri, cicilan valas), pertahankan saja sesuai rencana awal. Kalau belum punya dan tidak ada kebutuhan valas, tidak perlu mulai sekarang hanya karena rupiah sedang lemah — itu justru spekulasi arah kurs, bukan hedging.
Mandat B50 jadi katalis permintaan domestik jangka menengah yang cukup solid, tapi stok CPO Malaysia yang naik 4,78% membatasi ruang kenaikan harga jangka pendek — syarat penurunan stok ini belum terpenuhi. Masuk bertahap (DCA/akumulasi) untuk investor yang sudah paham siklus komoditas, bukan sekaligus dalam jumlah besar.
Permintaan batu bara China melemah cepat dan struktural (stok berlimpah, pergeseran ke EAF/electric arc furnace dalam produksi baja). Harga batu bara metalurgi diperkirakan stabil jangka panjang, tapi batu bara termal yang bergantung pada China perlu diwaspadai dalam 1-2 bulan ke depan.

