Detailed candlestick chart showing stock market trends and patterns.
Investour · Weekly Market Review

Yield AS 5,18%: IHSG Turun Tiga Pekan Beruntun

Dana asing terus meninggalkan saham dan rupiah menjadi yang paling tertekan di Asia, sementara pasar menunggu data inflasi RI dan NFP AS pekan ini.

Ferdy Tirtakusuma, CFP® CWM® · Senin, 28 September 2026 · 7 menit baca

Ringkasan Singkat

Yield (imbal hasil) US Treasury 10 tahun naik ke 5,18%, tertinggi sejak krisis keuangan global (Yahoo Finance), karena inflasi AS yang masih tinggi membuat pasar memperkirakan The Fed menaikkan bunga lagi. Akibatnya dana global lebih betah di aset dolar, sehingga IHSG turun 3,09% ke 6.241 dan rupiah menjadi mata uang paling tertekan di Asia pekan lalu, meskipun BI menahan BI Rate di 5,75% (CNBC Indonesia). Pertemuan Trump dan Xi hanya memperpanjang gencatan dagang dua bulan, sedangkan penolakan Trump atas proposal Iran pada Sabtu belum tercermin pada harga Jumat. Data paling krusial: inflasi RI Kamis 1 Oktober dan NFP AS Jumat 2 Oktober, dengan konsensus tambahan sekitar 100 ribu pekerjaan.

IHSG
6.241,89
▼ 3,09% WoW
YTD ≈-27,8%
USD/IDR
Rp17.880
▼ Melemah 0,85% WoW
Terlemah di Asia pekan lalu
SBN 10Y
7,083%
→ ≈-7 bps WoW
UST 10Y 5,18%
S&P 500
7.743,41
▲ 1,2% WoW
Nasdaq +2,1% · Dow +0,3%
Emas (Spot)
≈US$4.285
▼ ≈2,1% WoW
Pekan terburuk dalam 4 pekan
Brent
US$104,32
→ +0,43% WoW
WTI US$92,41 (-7,87%)
Bitcoin
≈US$84.600
▲ ≈4,3% WoW
Per 27 Sep (24/7)

GlobalYield AS menembus 5%, pasar memperhitungkan kenaikan bunga The Fed berikutnya

Highlight: Pasar kini memperkirakan The Fed masih akan menaikkan bunga, sehingga biaya uang di dunia tetap mahal dan tekanan ke aset negara berkembang belum reda.

Yield US Treasury (obligasi pemerintah AS) 10 tahun ditutup di 5,18% pada Jumat, level tertinggi sejak krisis keuangan global (Yahoo Finance). Edward Jones menilai penyebabnya ganda: inflasi inti PCE (ukuran inflasi pilihan The Fed) masih 3,3%, jauh di atas target 2%, sementara pertumbuhan ekonomi menguat berkat belanja rumah tangga, investasi AI, dan laba korporasi.

Karena itu The Fed, yang sudah menaikkan bunga 25 basis poin (bps) pada September, diperkirakan menaikkan lagi. CME FedWatch menempatkan peluang kenaikan Oktober di kisaran 67-71% (FXStreet; Pintu News), dan Edward Jones memperkirakan satu kenaikan lagi tahun ini serta satu atau dua kali pada 2027. Wall Street tetap menutup pekan di zona hijau berkat saham teknologi, sedangkan saham kapitalisasi kecil AS tertinggal karena lebih sensitif terhadap bunga (AP; Edward Jones).

Dari sisi perdagangan, pertemuan Trump dan Xi di Washington pada 24 September memperpanjang gencatan dagang AS-China dari 10 November menjadi 10 Januari 2027. Saxo menyebut hasilnya stabilitas, bukan terobosan: tarif dan pasokan rare earth (logam tanah jarang) tetap berjalan, tetapi belum ada pemangkasan tarif baru maupun komitmen rinci mengenai chip AI. Tenggat Januari menjadi sumber volatilitas berikutnya.

Dampak langsung ke Indonesia: Dengan UST 10 tahun di 5,18% dan SBN 10 tahun di 7,083%, selisih (spread) keduanya menyempit ke ≈1,90 poin persentase (hitungan Investour), dari ≈2,15 pada edisi lalu. Makin tipis selisihnya, makin besar dorongan dana global untuk bertahan di aset dolar. Indeks Wall Street pekan lalu: S&P 500 7.743,41 (+1,2%), Nasdaq 27.068,72 (+2,1%), Dow 51.828,62 (+0,3%) menurut AP via WTOP.
Tip untuk pemula · Apa itu neutral rate?

Neutral rate (suku bunga netral) adalah level bunga yang tidak mendorong dan tidak menahan ekonomi. Edward Jones mencatat pasar kini menyiratkan rata-rata bunga acuan AS 3,8% dalam sepuluh tahun ke depan, naik dari 3% di awal tahun. Artinya bunga tinggi bisa bertahan lama, bukan sekadar sementara.

KomoditasMinyak bergerak mengikuti diplomasi Iran, emas turun dua persen

Highlight: Harga minyak masih ditarik dua arah oleh harapan diplomasi dan risiko perang, sedangkan emas tertekan karena bunga AS yang cenderung naik.

Brent ditutup di US$104,32 dan bertahan di atas US$100, sementara WTI turun hampir 8% sepekan (Refinitiv via CNBC Indonesia). Tekanan pada WTI datang dari laporan bahwa negosiator AS dan Iran membahas langkah bertahap untuk membuka kembali Selat Hormuz di sela Sidang Umum PBB dengan mediasi Qatar (Reuters via CNBC Indonesia), sedangkan Brent tetap ditopang risiko gangguan pasokan.

Akhir pekan membawa kabar yang belum tercermin pada harga Jumat. Presiden Trump pada Sabtu menolak proposal Iran untuk membuka Selat Hormuz dalam tujuh hari (WSJ, dikutip NBC News dan CBS News). Pada Minggu, Menlu Iran Abbas Araghchi menyatakan Iran siap menghadapi perang “kiamat” bila serangan berlanjut, namun tetap membuka pintu diplomasi (NBC News). Trump menyebut perundingan diperkirakan berlanjut pekan ini, dan seorang pejabat pertahanan AS mengonfirmasi 22 juta barel minyak melewati Hormuz pada Jumat malam (Axios). Pembukaan pasar hari ini perlu dicermati.

Emas spot ditutup di sekitar US$4.285 per ons, turun ≈2,1% sepekan, pekan terburuk dalam empat pekan terakhir. Bunga AS yang cenderung naik dan dolar yang menguat membuat emas, yang tidak memberi bunga, kurang menarik (Bisnis.com; Pintu News). Pelemahan ini sejalan dengan skenario edisi lalu: kenaikan emas sepekan sebelumnya bukan alasan menambah porsi, dan penurunan pekan ini adalah momen membeli bertahap.

Dampak langsung ke Indonesia: Harga minyak di atas US$100 menambah beban subsidi energi dan tekanan inflasi domestik (Pintu News). Inflasi RI Agustus sudah naik ke 3,19% dari 2,28% pada Juli, dengan inflasi inti 2,92% yang tertinggi sejak Maret 2023 (CNBC Indonesia). Data September dirilis Kamis 1 Oktober.

IndonesiaIHSG turun tiga pekan beruntun, asing melepas saham bank besar

Highlight: Tekanan pekan lalu lebih banyak menimpa saham dan rupiah, sementara BI menahan bunga dengan fokus pada stabilitas nilai tukar.

IHSG ditutup di 6.241,89, turun 3,09% sepekan, dan mencatat pelemahan tiga pekan beruntun (BEI; FXStreet Indonesia). Pada Jumat, seluruh sektor utama melemah dengan 558 saham turun dan hanya 118 naik (CNBC Indonesia). Stabilitas menilai indeks masih berada dalam fase konsolidasi yang melemah, dengan area support di sekitar 6.200.

Investor asing mencatat net sell (jual bersih) ≈Rp3,16 triliun sepekan, lebih besar dari pekan sebelumnya, sehingga akumulasi 2026 mencapai Rp77,52 triliun (CNBC Indonesia; BEI). Saham perbankan besar kembali menjadi sasaran: Bank Mandiri paling banyak dilepas dengan nilai sekitar Rp0,5-1 triliun tergantung agregator data, disusul BRI dan Telkom (IDX Channel; KabarBursa).

BI menahan BI Rate di 5,75% pada RDG (Rapat Dewan Gubernur) perdana Gubernur Destry Damayanti, keputusan ketiga berturut-turut yang sesuai konsensus, dengan alasan menjaga stabilitas rupiah di tengah tekanan eksternal (Antara; CNBC Indonesia). Josua, ekonom yang dikutip Bisnis.com, menilai BI Rate masih berpeluang naik 25-50 bps hingga akhir tahun bila The Fed menaikkan bunga sekali lagi pada Desember.

Dampak langsung ke Indonesia: Rupiah ditutup Rp17.880 per dolar AS, melemah 0,85% sepekan dan menjadi mata uang dengan tekanan terdalam di Asia (Refinitiv via CNBC Indonesia). Yield SBN 10 tahun berada di 7,083%. Kapitalisasi pasar BEI menyusut Rp361 triliun ke Rp10.905 triliun, dan nilai transaksi harian turun 21,32% ke Rp11,98 triliun (BEI).

PolitikOtoritas membenahi tata kelola bursa menjelang tenggat MSCI November

Highlight: Pembenahan aturan bursa berjalan cepat menjelang tenggat MSCI, tetapi dampaknya baru bisa dinilai setelah aturan itu benar-benar diterapkan.

Cerita kursi Gubernur BI sudah selesai: Destry Damayanti memimpin RDG perdananya dan memilih menahan bunga (Antara). Di Kementerian Keuangan, Suahasil Nazara yang menggantikan Purbaya Yudhi Sadewa pada 14 September belum mengubah arah defisit, dengan outlook 2026 sebesar 2,85% PDB dan target RAPBN 2027 sebesar 2,40% PDB, keduanya di bawah batas 3% (Antara dan Liputan6, edisi 21 September).

Di sisi tata kelola pasar, OJK menerbitkan POJK Nomor 13 Tahun 2026 sebagai landasan hukum demutualisasi bursa, yaitu perubahan kepemilikan saham bursa dari terbatas pada anggota menjadi dapat dimiliki investor lain. Aturan itu berlaku sejak 17 September, disosialisasikan kepada BEI pada 25 September, dan melarang satu pihak memiliki lebih dari 50% saham bursa (Antara; Kompas.id; Media Indonesia). OJK menegaskan prosesnya masih pada tahap awal (SUAR).

Mulai hari ini BEI juga menurunkan harga minimum saham dari Rp50 menjadi Rp1. Batas auto rejection bawah (ARB) tetap 15% untuk saham di atas Rp10 hingga 31 Desember, lalu simetris dengan batas atas mulai 1 Januari 2027 (Media Indonesia; Katadata). Storyline FTSE Russell sudah selesai (29 saham RI keluar, efektif 21 September), sehingga perhatian bergeser ke review MSCI November. Untuk reshuffle, dua tahun pemerintahan jatuh pada 20 Oktober, tetapi belum ada tanggal atau nama yang dikonfirmasi dalam sumber yang kami periksa.

Dampak langsung ke Indonesia: Harga minimum Rp1 membuka ruang saham berharga rendah bergerak lebih liar. Bagi investor ritel, saham berkapitalisasi kecil dengan likuiditas tipis tetap berisiko tinggi, sedangkan reksa dana indeks LQ45 atau IDX30 tidak terpengaruh langsung oleh perubahan ini.
Tip untuk pemula · Harga saham rendah bukan berarti murah

Harga saham yang rendah tidak berarti perusahaannya murah. CNBC Indonesia mengingatkan bahwa investor tetap perlu memeriksa kuotasi terbaru, status suspensi, dan pengumuman resmi BEI sebelum bertransaksi.

KriptoBitcoin ke US$84.000-an didorong arus dana ETF, tetapi menguji resistance

Highlight: Bitcoin naik sekitar 4% sepekan karena arus dana ETF terbesar sejak Oktober 2025, tetapi harganya kini mendekati area resistance yang menjadi ujian berikutnya.

Bitcoin diperdagangkan di ≈US$84.600 per 27 September (CoinDesk; kripto diperdagangkan 24/7 sehingga tidak ada closing). ETF Bitcoin spot AS mencatat net inflow sekitar US$2,4 miliar pekan lalu, terbesar sejak Oktober 2025, dan membalik arus dana tahun berjalan menjadi positif (The Block; The Coin Republic). Kekhawatiran edisi lalu bahwa ETF masih net negatif sepanjang 2026 karena itu tidak berlaku lagi.

Sisi berlawanan tetap ada. Bitcoin telah naik sekitar 43,5% sepanjang kuartal III (CoinGlass via UseTheBitcoin) dan kini menguji area US$84.000-85.000, sementara harganya masih sekitar sepertiga di bawah puncak Oktober 2025. Glassnode mencatat pasar opsi memperhitungkan volatilitas lebih rendah daripada yang baru terjadi, sehingga posisi berleverage dapat memperbesar pergerakan ke dua arah (CryptoRank).

Konklusi: Apa yang Menarik untuk Dikoleksi?

Konten ini bersifat edukatif, bukan rekomendasi investasi personal.

✓ Menarik ⚡ Selektif
✓ Menarik: layak masuk sekarang, karena ada margin of safety yang jelas atau imbal hasil yang sudah terkonfirmasi (bukan sekadar prediksi).
⚡ Selektif: pandangan mendukung, tetapi ada syarat yang belum terpenuhi (harga, data, atau arus asing). Boleh masuk bertahap (DCA), bukan sekaligus.
Konsistensi dengan edisi 21 September: keenam verdict tidak berubah. Katalis yang ditunggu, yaitu RDG BI dan pertemuan Trump-Xi, keluar sesuai ekspektasi. Penurunan harga emas dan IHSG bukan sinyal murah, sedangkan kenaikan Bitcoin dan Nasdaq bukan alasan menaikkan level. Satu hal berubah secara fundamental: arus dana ETF Bitcoin tahun berjalan berbalik positif. Hal itu menghapus satu kekhawatiran edisi lalu, tetapi harga sudah mendekati resistance sehingga tingkat keyakinan tetap.
1RD Pasar Uang / SRBI✓ Menarik
Sumber: Antara dan CNBC Indonesia (23/9), Bisnis.com (22-23/9), Kemenkeu via Investortrust (18/9). Vs 21 Sep: tetap.

BI menahan BI Rate di 5,75% untuk ketiga kalinya berturut-turut, sehingga imbal hasil instrumen jangka pendek sudah terkonfirmasi, bukan sekadar prediksi. Risiko kenaikan bunga BI justru menguntungkan instrumen ini: Josua (dikutip Bisnis.com) menilai BI Rate berpeluang naik 25-50 bps hingga akhir tahun. Dana asing juga masuk ke SRBI sebesar Rp171,6 triliun sejak kuartal III hingga 10/9 (data terakhir Kemenkeu).

Akses ritel: reksa dana pasar uang seperti Sucorinvest Money Market atau Insight Money.
Decision tree: inflasi RI September (Kamis 1/10)
Jika inflasi tahunan di atas 3,19% (angka Agustus) dan rupiah melemah: peluang BI menaikkan bunga membesar, imbal hasil jangka pendek cenderung naik, verdict tetap ✓.
Jika sesuai ekspektasi: tidak ada perubahan.
Jika inflasi turun jelas dan rupiah stabil: BI cenderung menahan bunga, imbal hasil stabil, verdict tetap ✓.
2Saham RI⚡ Selektif
Sumber: BEI (25/9), FXStreet Indonesia (25/9), Stabilitas (24-25/9), IDX Channel (26/9), CNBC Indonesia (28/9). Vs 21 Sep: tetap.

IHSG turun 3,09% sepekan dan ≈27,8% sepanjang 2026 (dari basis akhir 2025), tetapi penurunan harga belum otomatis berarti murah: sebagian diskon adalah risk premium (bonus imbal hasil atas risiko) atas rupiah yang lemah, arus jual asing, dan tata kelola pasar yang masih dibenahi menjelang tenggat MSCI November, sehingga bisa menjadi value trap (terlihat murah padahal berisiko). Prinsip Warren Buffett be greedy when others are fearful baru valid bila ada margin of safety yang jelas, dan syarat itu belum terkonfirmasi selama asing masih net sell. Sisi berlawanan: Stabilitas menilai saham komoditas dan industri tertentu memperlihatkan ketahanan teknikal, dan pembenahan aturan bursa dapat memperbaiki persepsi bila diterapkan konsisten.

Sesuai decision tree edisi lalu, IHSG sudah turun menembus 6.370 dan rupiah sempat menyentuh Rp17.905 pada Kamis (Stabilitas), sehingga tambahan baru sebaiknya ditunda sampai net sell asing mereda dan indeks menemukan dasar. Bagi yang sudah memegang, tidak ada dorongan bertindak hanya karena satu pekan.

Akses ritel: reksa dana indeks berbasis LQ45 atau IDX30 (bukan saham berkapitalisasi kecil).
Decision tree: rupiah, arus asing, dan inflasi RI (Kamis 1/10)
Jika rupiah bertahan di bawah Rp17.900, net sell asing mereda, dan inflasi sesuai ekspektasi: tetap ⚡, membeli bertahap dengan porsi kecil.
Jika IHSG turun menembus area 6.200 atau rupiah melewati Rp17.900: tunda tambahan sampai kondisi stabil.
Kenaikan IHSG beberapa hari bukan sinyal menambah porsi ekstra, melainkan sinyal menunggu pullback berikutnya.
3SBN⚡ Selektif
Sumber: CNBC Indonesia (Refinitiv, 28/9), Yahoo Finance (25/9), Kemenkeu via Investortrust (18/9). Vs 21 Sep: tetap.

Yield SBN 10 tahun ditutup di 7,083%, ≈7 bps lebih rendah dari edisi lalu, tetapi naik dari 7,008% pada Kamis yang menandakan harga SBN melemah di akhir pekan (CNBC Indonesia). Karena UST 10 tahun naik ke 5,18%, selisih dengan SBN menyempit ke ≈1,90 poin persentase, sehingga kompensasi risiko makin tipis. Syaratnya: yield AS tidak naik jauh lebih tinggi dan rupiah stabil. Sisi positif: dana asing sempat masuk ke SBN sebesar Rp33,8 triliun sejak kuartal III hingga 10/9 (Kemenkeu).

Akses ritel: SBN ritel lewat bank atau platform SBN resmi; dipegang sampai jatuh tempo mengurangi dampak fluktuasi harga.
Decision tree: yield UST dan data AS (PCE Rabu 30/9, NFP Jumat 2/10)
Jika UST 10 tahun bertahan di atas 5,2% dan rupiah di atas Rp17.900: yield SBN berpotensi naik (harga turun), tunggu.
Jika data AS lebih lemah dan UST turun di bawah 5%: lanjutkan pembelian bertahap.
Jika sesuai ekspektasi: tidak ada perubahan.
4Emas⚡ Selektif
Sumber: Bloomberg via Bisnis.com (25/9), CNBC via Liputan6 (25/9), Bloomberg Technoz (28/9), Pintu News (25/9). Vs 21 Sep: tetap.

Emas spot ditutup di ≈US$4.285, turun ≈2,1% sepekan, tertekan bunga AS yang cenderung naik dan dolar yang menguat. Pasar juga memperhitungkan peluang sekitar 95% untuk kenaikan tambahan The Fed pada Desember (CME FedWatch, dikutip Berita Keuangan Indonesia). Penurunan ini sesuai skenario edisi lalu (“DCA saat lemah”), tetapi harga turun belum otomatis berarti murah. Pandangan tetap ⚡ Selektif, dan kenaikan bunga AS yang berlanjut adalah risiko utamanya.

Akses ritel: emas Antam (fisik atau tabungan emas lewat Pegadaian atau bank), atau reksa dana/ETF emas; perhatikan selisih harga jual dan buyback.
Decision tree: PCE Rabu 30/9 dan NFP Jumat 2/10
Jika PCE inti di atas 3,3% atau NFP jauh di atas +100 ribu: peluang kenaikan bunga The Fed membesar dan emas berpotensi tertekan lagi. Itu momen membeli bertahap, bukan menambah porsi ekstra.
Jika data lebih lemah dari ekspektasi dan yield turun: dukungan ke emas bertambah, tetap DCA.
Jika sesuai ekspektasi: tidak ada perubahan.
5Saham AS & Global⚡ Selektif
Sumber: AP via WTOP (25/9), Yahoo Finance (25-27/9), Edward Jones (25/9), CNBC Indonesia (28/9). Vs 21 Sep: tetap.

Wall Street menutup pekan lebih tinggi (S&P 500 +1,2%, Nasdaq +2,1%) meskipun yield 10 tahun mencapai 5,18%. Edward Jones menilai saham kapitalisasi besar, terutama teknologi, bertahan berkat neraca kuat dan pertumbuhan solid, sedangkan saham kapitalisasi kecil tertinggal karena utangnya lebih besar, dan Edward Jones tidak akan terkejut bila volatilitas naik. Kenaikan Nasdaq sepekan bukan alasan mengejar, karena risiko valuasi meningkat bila The Fed menaikkan bunga lagi.

Akses ritel: utamakan reksa dana indeks global berbasis S&P 500 atau Nasdaq. Currency risk: secara historis rupiah lebih sering melemah daripada menguat terhadap dolar dalam jangka panjang, sehingga eksposur ke aset USD cenderung menambah return dalam rupiah, namun ini bukan jaminan, dan dalam jangka pendek pergerakannya tetap bisa dua arah.
Decision tree: PCE Rabu 30/9 (konsensus 3,7% yoy, inti 3,3%) dan NFP Jumat 2/10 (konsensus +100 ribu)
Jika PCE atau NFP melampaui konsensus: peluang kenaikan bunga Oktober membesar, yield berpotensi naik lagi, dan volatilitas saham meningkat. Tetap bertahap.
Jika sesuai konsensus: tidak ada perubahan.
Jika NFP lebih lemah: tekanan yield mereda, namun BofA memperkirakan +60 ribu sebagai koreksi dari faktor musiman Agustus, sehingga angka lemah belum tentu tanda pelemahan ekonomi.
6Bitcoin⚡ Selektif
Sumber: CoinDesk (27/9), The Block (26/9), CryptoRank dan The Coin Republic (27/9), Glassnode via CryptoRank. Vs 21 Sep: tetap.

Bitcoin di ≈US$84.600 (27/9, aset 24/7), naik ≈4,3% dari edisi lalu. Ada satu perubahan fundamental: arus dana ETF pekan lalu ≈US$2,4 miliar, terbesar sejak Oktober 2025, membalik arus tahun berjalan menjadi positif. Namun harga kini menguji area US$84.000-85.000 setelah kenaikan ≈43,5% sepanjang kuartal III, sehingga entry justru lebih mahal dan verdict tidak dinaikkan.

Akses ritel: exchange berizin OJK/Bappebti, position sizing ketat 1-3% dari portofolio. Aset ini diperdagangkan 24/7.
Decision tree: level harga dan arus ETF
Jika bertahan di atas US$85.000 dengan ETF inflow berlanjut: tidak ada perubahan, tetap DCA sesuai porsi 1-3%.
Jika kembali ke sekitar US$80.000 (level yang kami sebut pada edisi lalu): area yang lebih masuk akal untuk membeli bertahap dibanding mengejar harga.
Jika turun menembus US$75.000: tahan penambahan sampai harga stabil.

Ilustrasi Alokasi Portofolio

Proporsi ilustratif berdasarkan aset paling relevan pekan ini, bukan saran personal. Total 100%. Sama dengan edisi 21 September karena verdict tidak berubah.

RD Pasar Uang/SRBI
25%
SBN
20%
Saham RI
20%
Saham AS/Global
20%
Emas
10%
Bitcoin
5%

Sumber referensi: CNBC Indonesia Research (28/9): closing Jumat 25/9 untuk IHSG, rupiah, SBN, Wall Street, minyak, serta agenda dan data pekan ini. CNBC Indonesia (26/9): Brent dan WTI. BEI via Kompas.com, Detik, Jurnas, IDN Times, dan Suara.com (26-27/9): IHSG mingguan, kapitalisasi pasar, nilai transaksi, arus asing. FXStreet Indonesia dan Stabilitas (24-25/9): level teknikal dan rupiah. IDX Channel dan KabarBursa (26-27/9): net sell asing per saham. Antara, CNBC Indonesia, Bisnis.com, dan Media Indonesia (22-23/9): keputusan RDG BI. Antara, Kompas.id, Media Indonesia, SUAR, Katadata, dan Ajaib (21-27/9): POJK 13/2026 dan aturan BEI. Kemenkeu via Investortrust (18/9): arus modal. Yahoo Finance (25-27/9) dan Edward Jones (25/9): kuotasi, kalender ekonomi dan laba, yield AS, pandangan The Fed. AP via WTOP dan Trading Economics (25/9): Wall Street. CME FedWatch via FXStreet dan Pintu News. Saxo dan FXStreet (25/9): pertemuan Trump-Xi. NBC News, CNBC, Axios, dan CBS News (27/9): Iran dan Selat Hormuz. Bloomberg via Bisnis.com dan Bloomberg Technoz, CNBC via Liputan6, Pintu News: emas. CoinDesk (27/9), The Block (26/9), CryptoRank dan The Coin Republic (27/9), UseTheBitcoin (27/9): Bitcoin dan arus ETF. Edisi 21 September 2026 (basis WoW dan verdict): IHSG 6.441,16; rupiah Rp17.730; SBN 10Y 7,157%; emas US$4.376,91; Bitcoin ≈US$81.100; S&P 500 7.650,50.

Catatan data KPI: Sumber: BEI (IHSG), Refinitiv via CNBC Indonesia (rupiah, SBN, Brent, WTI), Yahoo Finance (UST 10Y), AP via WTOP (Wall Street), Bloomberg via Bisnis.com (emas), CoinDesk (Bitcoin). WoW = closing Jumat 25 September dibanding closing Jumat 18 September. Tanda ≈ = dihitung sendiri: YTD IHSG dari basis akhir 2025 (8.646,93); WoW SBN (basis 7,157%), emas (basis US$4.376,91), dan Bitcoin (basis ≈US$81.100) dari level edisi 21 September. Bitcoin diperdagangkan 24/7 sehingga memakai level per 27 September, bukan closing.

Selisih antar sumber dan cara kami memilih:
– Rupiah: Refinitiv Rp17.880 (-0,85% WoW) dan FXStreet Indonesia Rp17.880 (dari Rp17.885 pada Kamis). Stabilitas mencatat Rp17.905 pada Kamis dan Rp17.855 pada Rabu (sesi berbeda). Kami memakai Refinitiv karena konsisten dengan basis edisi lalu (Rp17.730).
– IHSG dan pasar saham: BEI 6.241,892 (-3,09%); FXStreet Indonesia menulis -3,11% (basis berbeda). Kapitalisasi pasar: BEI Rp10.905 triliun (mingguan) dan CNBC Indonesia Rp10.929 triliun (harian Jumat). Kami memakai BEI.
– Net sell asing: Jumat BEI Rp559,16 miliar dan CNBC Indonesia Rp559,08 miliar. Sepekan: CNBC Indonesia Rp3,16 triliun, konsisten dengan kenaikan akumulasi BEI dari Rp74,36 triliun ke Rp77,52 triliun. Katadata mencatat Rp1,10 triliun untuk periode 19-23/9 (periode berbeda, tidak dipakai). Net sell Bank Mandiri berbeda antar agregator (Rp545,6 miliar di Stockbit via KabarBursa, ≈Rp957,5 miliar di Penainsight, hampir Rp1 triliun di IDX Channel), sehingga artikel menulis kisaran.
– Wall Street mingguan: AP via WTOP mencatat S&P 500 +1,2% (+92,91 poin), Dow +0,3%, Nasdaq +2,1%. Trading Economics mencatat S&P 500 +0,6% dan Dow -103 poin (basis berbeda). Kami memakai AP karena konsisten dengan level edisi lalu.
– UST 10Y: Yahoo Finance 5,18% (penutupan Jumat). Edward Jones menyebut sempat menyentuh 5,20% dan naik ≈20 bps sepekan (Bloomberg); Pintu News menulis ≈5,2%. Kami memakai Yahoo Finance.
– Minyak: Refinitiv Brent US$104,32 (+0,43% WoW) dan WTI US$92,41 (-7,87%). Deutsche Bank via FXStreet menyebut Brent ditutup US$106,60 pada Kamis. AP menyebut Brent turun di bawah US$98 pada Jumat, angka yang tidak sejalan dengan Refinitiv dan Reuters (US$104-106) sehingga tidak dipakai. Angka “Crude Oil” US$92,41 di Yahoo Finance adalah WTI, bukan Brent.
– Emas spot: Bloomberg via Bisnis.com US$4.285 (-2,24%), CNBC via Liputan6 US$4.288,36 (pukul 02.00 GMT, sekitar -2%), Reuters (dikutip agregator) US$4.286,25 (-2,07%), futures COMEX US$4.321,20 (Yahoo Finance). WoW ≈-2,1% kami hitung dari US$4.376,91 (Refinitiv, edisi lalu). Kami memakai US$4.285 (Bloomberg, penutupan Jumat).
– SBN 10Y: Refinitiv 7,083% (dari 7,008% pada Kamis). WoW ≈-7 bps dihitung dari basis 7,157% edisi lalu.
– Peluang kenaikan The Fed Oktober (CME FedWatch): ≈71% menurut FXStreet Indonesia, ≈67% menurut Pintu News, “hampir 70%” menurut kutipan Trading Economics. Artikel menulis kisaran 67-71%. Konsensus NFP Agustus lalu: 53 ribu (Yahoo Finance) atau 56 ribu (CNBC Indonesia), selisih tidak material.
– Bitcoin: CoinDesk US$84.602 (27/9, 02.25 EDT) dan Yahoo Finance US$84.871 (waktu berbeda). Kami memakai pembulatan ≈US$84.600. Arus ETF pekan lalu: The Block ≈US$2,4 miliar, CryptoRank US$2,39 miliar.
– Ringkasan agenda pekan ini dari CNBC Indonesia dan kalender Yahoo Finance berdekatan; konsensus JOLTS memakai Yahoo Finance (7,225 juta), sedangkan CNBC Indonesia hanya mencantumkan data Juli (7,271 juta).
– Rekap Pasar Investasi (dokumen ringkasan mingguan, 28/9): dipakai sebagai pembanding silang untuk arah pasar AS dan RI, agenda katalis pekan ini, serta peta skenario risk-on/risk-off. Tiga perbedaan angka ditemukan dan tidak diikuti karena kalah kuat dibanding sumber utama: (1) net sell asing ditulis “≈Rp559 miliar”, yang cocok dengan angka harian Jumat kami (BEI Rp559,16 miliar), bukan angka mingguan; angka mingguan ≈Rp3,16 triliun di artikel ini tetap dipakai karena tervalidasi silang lewat akumulasi YTD BEI (Rp74,36 triliun ke Rp77,52 triliun). (2) WTI ditulis turun ≈6,9% mingguan, sedikit berbeda dari -7,87% versi Refinitiv yang kami pakai, kemungkinan basis jam berbeda. (3) Arus ETF Bitcoin ditulis “masih negatif”, bertentangan dengan angka net inflow ≈US$2,4 miliar yang kami pakai; pengecekan tambahan pada The Block, KuCoin, 24/7 Wall St, CryptoTicker, dan CoinMarketCap Academy mengonfirmasi arus masuk tersebut membalik akumulasi 2026 ke positif, sehingga klaim “masih negatif” pada dokumen ini kami nilai tidak akurat atau sudah usang.

Konten ini disusun untuk tujuan edukasi dan informasi umum, bukan merupakan penawaran, ajakan, atau rekomendasi untuk membeli atau menjual efek atau produk investasi tertentu, serta tidak mempertimbangkan tujuan, kondisi keuangan, atau profil risiko Anda secara pribadi. Kinerja masa lalu tidak menjamin kinerja masa depan. Investasi pada produk pasar modal mengandung risiko, termasuk kemungkinan kehilangan sebagian atau seluruh dana pokok; calon investor wajib membaca dan memahami prospektus sebelum memutuskan berinvestasi. Investasi pada aset kripto berisiko tinggi dan harganya sangat fluktuatif. Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab Anda; konsultasikan dengan penasihat keuangan berizin sebelum bertindak.

Investour · Independent Financial Advisory · investour.id | @investour.id

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top
Chat WhatsApp