From above ten dollar banknote with inscription and United States treasury building placed on table
Investour · Weekly Market Review

Yield AS Tertinggi Sejak 2002, IHSG Turun Empat Pekan Beruntun

Imbal hasil obligasi AS menyentuh level yang terakhir terlihat 24 tahun lalu. Dolar menguat, dana asing meninggalkan saham Indonesia, dan pasar kini menunggu risalah rapat The Fed.

Ferdy Tirtakusuma, CFP® CWM® · Senin, 5 Oktober 2026 · 7 menit baca

Ringkasan Singkat

Yield (imbal hasil) US Treasury 10 tahun sempat mencapai 5,34% pada Kamis 1 Oktober, tertinggi sejak 2002, karena The Fed sudah menaikkan bunga, harga minyak tetap tinggi akibat perang Iran, dan pasar obligasi global ikut tertekan kekhawatiran utang pemerintah (CNBC Indonesia). Akibatnya dolar menguat dan dana asing meninggalkan saham Indonesia, sehingga IHSG turun 3,28% ke 6.036,89 dengan net sell asing ≈Rp4,32 triliun, sedangkan rupiah dan SBN relatif lebih tertahan. Data tenaga kerja AS yang jauh di bawah perkiraan menurunkan peluang kenaikan bunga pada Oktober, namun yield belum turun berarti. Yang paling dicermati: risalah rapat The Fed (FOMC minutes) pada Rabu 7 Oktober waktu AS, serta pembukaan pasar hari ini karena perkembangan AS-Iran belum tercermin pada harga Jumat.

IHSG
6.036,89
▼ 3,28% WoW
YTD ≈-30,2% · turun 4 pekan
USD/IDR
Rp17.868
→ Rupiah +0,07% WoW
Sempat tembus Rp18.000 (29/9)
SBN 10Y
7,159%
▲ ≈+7,6 bps WoW
Selisih dengan UST ≈1,88 poin
UST 10Y
5,28%
▲ ≈+10 bps WoW
Puncak 5,34% (1/10), tertinggi sejak 2002
S&P 500
7.722,72
→ ≈-0,27% WoW
Nasdaq 27.190,86 (+1,19% Jumat)
Emas (Spot)
US$4.142,34
▼ 3,36% WoW
Melemah dua pekan beruntun
Brent
US$102,25
→ -1,98% WoW
WTI US$91,11 (-1,41%)

GlobalYield AS menyentuh level tertinggi sejak 2002 karena tiga tekanan sekaligus

Highlight: Yield AS naik ke level tertinggi sejak 2002 karena bunga The Fed, harga minyak yang tinggi, dan kekhawatiran utang pemerintah di banyak negara; data tenaga kerja yang lemah hanya meredakannya sebagian.

Yield (imbal hasil) US Treasury tenor 10 tahun sempat menyentuh 5,34% pada Kamis, tertinggi sejak 2002, sebelum ditutup lebih rendah pada Jumat (CNBC Indonesia, Yahoo Finance). Pemicu pertama adalah The Fed: sejak Ketua Kevin Warsh memberi sinyal di Jackson Hole bahwa kenaikan bunga akan terjadi, yield naik sekitar 50 bps (basis poin, 1 bps = 0,01 poin persentase) dalam 18 hari perdagangan menurut Jeff Kilburg dari KKM Financial, dan The Fed benar-benar menaikkan bunga bulan lalu.

Pemicu kedua adalah energi. Perang AS-Israel dengan Iran menjaga harga minyak tetap tinggi, dan pada 1 Oktober Brent melonjak ke US$102,31 setelah AS dikabarkan menambah kapal induk dan pasukan serta China menghentikan ekspor produk minyak (CNBC Indonesia). Pemicu ketiga datang dari pasar obligasi global: yield Prancis naik menjelang anggaran tahun depan yang berisi penghematan, yield Inggris tenor 30 tahun mencapai level tertinggi dalam hampir tiga dekade, dan kebutuhan modal untuk AI serta pusat data ikut menyerap dana. Trading Economics juga mencatat kekhawatiran terhadap prospek utang dan defisit AS. Mekanismenya sederhana: bila defisit yang besar membuat pemerintah menerbitkan lebih banyak obligasi sementara permintaan tidak ikut bertambah, harga Treasury turun dan yield naik, dan investor menuntut term premium (kompensasi tambahan untuk menahan obligasi jangka panjang) yang lebih tinggi.

Laporan tenaga kerja Jumat hanya memberi jeda singkat. Non-Farm Payroll (jumlah lapangan kerja di luar sektor pertanian) September hanya +29 ribu, jauh di bawah perkiraan ekonom sekitar 90 ribu, sehingga peluang kenaikan bunga pada Oktober turun ke kisaran 14-20% menurut CME FedWatch. Namun yield yang sempat turun kembali naik karena data lemah belum cukup menghapus kemungkinan kenaikan bunga pada Desember (Trading Economics).

Dampak langsung ke Indonesia: Yield AS yang tinggi menguatkan dolar: indeks dolar (DXY) naik 0,95% sepekan ke 101,932, kenaikan tiga pekan beruntun, dan tujuh dari sepuluh mata uang Asia melemah (Refinitiv via CNBC Indonesia). Dana global cenderung bertahan di aset dolar, sehingga saham dan obligasi pasar berkembang, termasuk Indonesia, menghadapi arus keluar.

Angka pendukung: The Fed menaikkan bunga 25 bps ke kisaran 3,75-4,00% secara bulat pada 16 September, dan median proyeksi anggotanya melihat satu kenaikan lagi pada 2026. Yield Prancis 10 tahun mendekati 5% (tertinggi sejak 2002) dan yield Inggris 30 tahun di atas 6% (tertinggi sejak 1998), sementara Institute of International Finance mencatat negara maju membayar lebih dari US$3,3 triliun bunga obligasi dalam setahun terakhir (CNBC Indonesia).
Tip untuk pemula · Mengapa disebut “tertinggi sejak 2002”, bukan rekor?

Yield 10 tahun AS pernah mencapai 15,82% pada 1981 (Trading Economics). Level 5,34% adalah yang tertinggi dalam sekitar 24 tahun, sehingga istilah “rekor sepanjang masa” tidak tepat. Yang penting bagi investor: imbal hasil bebas risiko dalam dolar kini jauh lebih tinggi, sehingga aset berisiko harus menawarkan imbal hasil yang lebih besar untuk tetap menarik.

KomoditasEmas tertekan yield dan dolar, minyak turun tipis namun tetap di atas US$100

Highlight: Emas turun karena yield dan dolar yang tinggi, sedangkan minyak turun tipis setelah G7 sepakat melepas cadangan, tetapi pasokan tetap ketat.

Emas spot ditutup di US$4.142,34, turun 3,36% sepekan dan melemah dua pekan beruntun (Refinitiv via CNBC Indonesia). Yield US Treasury dan dolar yang tinggi menjadi beban: emas tidak memberi imbal hasil, sehingga aset berbunga menjadi relatif lebih menarik. Han Tan dari Bybit menilai pelaku pasar masih enggan membeli selama The Fed mempertahankan sikap hawkish (Reuters).

Minyak turun tipis karena G7 sepakat melepas sekitar 100 juta barel minyak dan diesel dari cadangan selama empat bulan, sehingga Brent ditutup di US$102,25 (Refinitiv via CNBC Indonesia). Namun pasokan tetap ketat: China menghentikan ekspor produk minyak dan Rusia melarang ekspor diesel hingga Oktober, sehingga harga bertahan di atas US$100 dan terus menjadi sumber tekanan inflasi yang menopang yield AS.

Dampak langsung ke Indonesia: Sebagai negara pengimpor bersih minyak, Indonesia merasakan harga di atas US$100 melalui neraca perdagangan dan rupiah. Usulan pemerintah untuk harga minyak mentah Indonesia (ICP) dalam pembahasan RAPBN 2027 adalah US$75 per barel (Komisi XI DPR, 1/9), jauh di bawah level Brent saat ini (acuan berbeda, hanya indikatif), sehingga selisih ini perlu dipantau pada sisi fiskal.

IndonesiaDana asing meninggalkan saham, sementara rupiah dan SBN lebih tertahan

Highlight: Yield AS yang tinggi menarik dana asing keluar dari saham Indonesia, tetapi rupiah dan SBN lebih tertahan karena yield SBN sudah di atas 7% dan Bank Indonesia aktif membeli SBN di pasar sekunder.

IHSG ditutup di 6.036,89, turun 3,28% sepekan meskipun menguat 0,46% pada Jumat, dengan net sell asing ≈Rp4,32 triliun sepekan (BEI via RTI Business, dikutip Kontan). Tekanan jual itu masuk akal: ketika imbal hasil dolar naik, investor global menuntut imbal hasil yang lebih besar dari aset berisiko di pasar berkembang. Mirae Asset Sekuritas menilai penguatan Jumat lebih mencerminkan technical rebound (pantulan teknikal) dan belum menandai perubahan tren.

Rupiah dan obligasi bergerak berbeda dari saham. Rupiah ditutup di Rp17.868, menguat tipis sepekan dan lebih baik daripada mayoritas mata uang Asia, meskipun sempat menembus Rp18.000 di awal pekan (Refinitiv via CNBC Indonesia, Kontan). Yield SBN 10 tahun naik ke 7,159%, sedikit lebih kecil daripada kenaikan yield AS, sehingga selisihnya dengan yield AS menyempit tipis.

Selisih ke yield AS kini ≈1,88 poin persentase (≈1,90 pekan lalu), dan itu penting karena menjadi kompensasi yang diterima investor asing untuk memegang obligasi rupiah; bila selisih menipis dan rupiah melemah, dana cenderung kembali ke dolar. Yield SBN relatif tertahan karena sudah di atas 7% sejak koreksi pasar pada Juni (Bareksa), sementara Bank Indonesia menahan BI Rate di 5,75%, meningkatkan pembelian SBN di pasar sekunder, dan memperluas underlying operasi moneter (Kontan). RDG berikutnya dijadwalkan pada 20-21 Oktober.

Dampak langsung ke Indonesia: IHSG turun 7,95% sepanjang September dan ≈30,2% sejak awal 2026; net sell asing tahun berjalan ≈Rp107,4 triliun, dengan Rp1,27 triliun terjadi pada Jumat saja (Kontan, data BEI). Sebagai pembanding, selisih SBN dengan UST masih ≈2,29 poin persentase pada 7 September (Bareksa).

Sisi ekonomi domestik lebih tangguh: inflasi September 3,28% yoy, sedikit di bawah perkiraan 3,30% (BPS), dan PMI Manufaktur naik ke 52,4, tertinggi tujuh bulan (S&P Global). Phintraco Sekuritas memperkirakan IHSG bergerak di kisaran 6.000-6.200, sedangkan Mirae Asset menyebut rebound Jumat belum mengubah tren.
Tip untuk pemula · Yield naik berarti harga obligasi turun

Yield dan harga obligasi bergerak berlawanan. Saat yield SBN naik dari 7,083% ke 7,159%, harga SBN yang sudah beredar turun. Investor yang memegang SBN ritel sampai jatuh tempo tetap menerima kupon dan pokok sesuai ketentuan, sehingga fluktuasi harga di tengah jalan tidak mengubah hasil akhirnya.

PolitikKabinet diperbarui dan APBN 2027 disahkan, asumsi pasar kini diuji

Highlight: Pemerintah merombak kabinet pada 1 Oktober dan mengesahkan APBN 2027 pada 29 September, tetapi kurs dan harga minyak di pasar kini berada di atas rentang asumsi anggaran.

Presiden Prabowo Subianto melantik menteri dan wakil menteri baru pada Kamis 1 Oktober, termasuk Listyo Sigit Prabowo sebagai Kepala Staf Kepresidenan, Bahlil Lahadalia sebagai Menko Hilirisasi dan Transisi Energi, serta dua Wakil Menteri Keuangan baru, Nurkholisoh Ibnu Aman dan Luky Alfirman (CNBC Indonesia). Posisi Menteri Keuangan tidak termasuk dalam daftar yang dilantik. Investor mencermati arah kebijakan ekonomi dari susunan baru ini, tetapi implikasinya bagi disiplin fiskal baru dapat dinilai setelah ada pernyataan kebijakan dari tim ekonomi.

Dari sisi fiskal, rapat paripurna DPR mengesahkan APBN 2027 pada Selasa 29 September dengan defisit 2,40% dari PDB, di bawah batas 3% dalam undang-undang (DDTCNews). Defisit yang terjaga adalah kabar baik bagi kredibilitas fiskal, namun risikonya ada pada asumsi: kurs dan harga minyak di pasar saat ini sudah di atas rentang yang disepakati, dan selisih seperti itu dapat menambah beban subsidi serta bunga bila bertahan.

Di pasar modal, BEI menurunkan batas harga minimum saham dari Rp50 menjadi Rp1 mulai 28 September, sehingga saham yang sebelumnya tertahan di batas Rp50 kini bisa turun lebih dalam. Short selling (penjualan saham yang dipinjam) resmi berlaku sejak 1 Oktober dan pada tahap awal terbatas pada beberapa saham (CNBC Indonesia). Tenggat reformasi tata kelola pasar pada review MSCI November tetap menjadi agenda utama.

Dampak langsung ke Indonesia: Rentang asumsi RAPBN 2027 yang disepakati Banggar DPR dan pemerintah pada Juli (Bisnis.com, 2/7) dibandingkan dengan level 2 Oktober: kurs Rp16.800-17.500 vs Rp17.868 (di atas rentang); yield SBN 10 tahun 6,5-7,3% vs 7,159% (di dalam rentang); ICP US$70-95 per barel vs Brent US$102,25 (acuan berbeda, hanya indikatif). Angka titik dalam UU APBN yang disahkan belum kami konfirmasi.

Contoh dampak aturan baru: GOTO terkena auto reject bawah (ARB) 14% ke Rp43 pada 28 September (Katadata); short selling pada tahap awal terbatas pada lima saham (ASII, BBCA, BRPT, BUMI, INDF).

Tanggal berikutnya: peringatan dua tahun pemerintahan pada 20 Oktober. Menteri Keuangan Suahasil Nazara menjabat sejak 14 September dan tidak termasuk dalam pelantikan 1 Oktober; RDG BI 22-23 September adalah yang pertama dipimpin Gubernur Destry Damayanti.

Konklusi: Apa yang Menarik untuk Dikoleksi?

Konten ini bersifat edukatif, bukan rekomendasi investasi personal.

✓ Menarik ⚡ Selektif
✓ Menarik: layak masuk sekarang, karena imbal hasil sudah terkonfirmasi atau ada margin of safety yang jelas.
⚡ Selektif: pandangan mendukung, tetapi ada syarat yang belum terpenuhi. Boleh masuk, namun bertahap (DCA), bukan sekaligus.
Konsistensi dengan edisi 28 September: keenam verdict tidak berubah. Dua data yang ditunggu edisi lalu sudah keluar: inflasi RI September 3,28% sedikit di bawah perkiraan, dan NFP AS +29 ribu jauh di bawah perkiraan. Data lemah itu menurunkan peluang kenaikan bunga The Fed pada Oktober, tetapi yield tetap tinggi dan syarat “net sell asing mereda” belum terpenuhi, sehingga belum ada dasar fundamental baru untuk mengubah verdict. Penurunan harga emas dan IHSG bukan sinyal murah, sedangkan kenaikan S&P 500 mendekati rekor bukan alasan menaikkan level.
1RD Pasar Uang / SRBI✓ Menarik
Sumber: RDG BI 22-23/9 untuk BI Rate 5,75%; Josua Pardede (Bank Permata) via Bisnis.com; Kontan untuk langkah BI; Bareksa untuk kinerja reksa dana (per 14/9). Vs 28 Sep: tetap.

BI Rate bertahan di 5,75%, sehingga imbal hasil instrumen jangka pendek sudah terkonfirmasi, bukan sekadar prediksi. Kinerja satu tahun reksa dana pasar uang Insight Money tercatat 5,19% per 14 September (Bareksa), sebagai gambaran dan bukan jaminan hasil. Rupiah yang masih dekat Rp18.000 dan yield AS yang tinggi membuat peluang BI menaikkan bunga tetap ada (Josua Pardede, dikutip Bisnis.com: BI Rate berpeluang naik 25-50 bps hingga akhir tahun), dan hal itu justru mendukung instrumen jangka pendek.

Akses ritel: reksa dana pasar uang seperti Sucorinvest Money Market atau Insight Money.
Decision tree: cadangan devisa RI (Rabu 7/10) dan rupiah
Jika rupiah melewati Rp18.000 dan cadangan devisa turun: peluang BI menaikkan bunga pada RDG 20-21 Oktober membesar, imbal hasil jangka pendek cenderung naik, verdict tetap ✓.
Jika sesuai ekspektasi: tidak ada perubahan.
Jika rupiah menguat di bawah Rp17.800 dan cadangan devisa stabil: BI cenderung menahan bunga, imbal hasil stabil, verdict tetap ✓.
2Saham RI⚡ Selektif
Sumber: BEI via RTI Business dan Kontan; Phintraco Sekuritas dan Mirae Asset Sekuritas (dikutip media nasional); CNBC Indonesia (1/10). Vs 28 Sep: tetap.

IHSG turun 3,28% sepekan dan ≈30,2% sepanjang 2026 (dari basis akhir 2025), dengan net sell asing ≈Rp4,32 triliun. Penurunan harga belum otomatis berarti murah: sebagian diskon adalah risk premium (bonus imbal hasil atas risiko) atas rupiah yang lemah, arus jual asing, dan tata kelola pasar yang masih dibenahi menjelang tenggat MSCI November, sehingga bisa menjadi value trap (terlihat murah padahal berisiko). Dari sisi fiskal, defisit APBN 2027 disepakati 2,40% PDB, tetapi asumsi kurs dan harga minyak masih diuji pasar.

Sisi bull: Phintraco Sekuritas melihat indikator Stochastic RSI membentuk golden cross di area oversold, dengan kisaran 6.000-6.200. Sisi bear: Mirae Asset menilai rebound Jumat baru bersifat teknikal dan belum menandai perubahan tren. Syarat dari edisi lalu, yaitu net sell asing mereda, belum terpenuhi, sehingga tidak ada alasan menaikkan level.

Akses ritel: reksa dana indeks LQ45 atau IDX30; untuk saham langsung, utamakan emiten berkapitalisasi besar dengan neraca sehat dan arus kas stabil, dibeli bertahap.
Decision tree: arus asing dan level IHSG
Jika net sell asing berlanjut dan IHSG turun di bawah 6.000 (penutupan Kamis 1/10 di 6.009,50 adalah terendah dalam lebih dari dua bulan): tahan penambahan.
Jika sesuai ekspektasi, yaitu bergerak 6.000-6.200 dengan net sell yang mereda: tambahan kecil dan bertahap.
Jika net buy asing muncul beberapa hari berturut-turut dan rupiah stabil: pertimbangkan menaikkan verdict setelah konfirmasi, bukan sebelumnya.
3SBN⚡ Selektif
Sumber: CNBC Indonesia (Refinitiv) untuk yield SBN; Yahoo Finance dan Trading Economics untuk UST; Bareksa untuk selisih yield dan SBR015. Vs 28 Sep: tetap.

Yield SBN 10 tahun ditutup di 7,159%, naik ≈7,6 bps dari edisi lalu, sedangkan UST naik ≈10 bps ke 5,28%. Selisih menyempit ke ≈1,88 poin persentase (≈1,90 pada edisi lalu dan ≈2,29 pada 7 September), sehingga kompensasi risiko bagi investor asing makin tipis. Sisi bull: yield SBN relatif tertahan karena sudah di atas 7% sejak koreksi pasar pada Juni (Bareksa) dan BI meningkatkan pembelian SBN di pasar sekunder (Kontan). Syaratnya tetap: yield AS tidak naik jauh lebih tinggi dan rupiah stabil. Yield AS yang tinggi ini juga relevan bagi SBN valas INDON dan INDOIS, yang harganya bergerak searah dengan US Treasury.

Akses ritel: SBN ritel lewat bank atau platform SBN resmi, misalnya SBR015 yang ditawarkan 28 September-22 Oktober dengan kupon minimal 6,75% (tenor 2 tahun) dan 6,85% (tenor 4 tahun), tertinggi untuk seri SBR sejak 2020 (Bareksa). Dipegang sampai jatuh tempo mengurangi dampak fluktuasi harga. Untuk ikut yield dolar AS, tersedia juga INDON (obligasi) dan INDOIS (sukuk global); risiko kurs berlaku bagi yang berpenghasilan rupiah.
Decision tree: risalah FOMC (Rabu 7/10 waktu AS) dan UST 10 tahun
Jika risalah mengisyaratkan kenaikan bunga lagi dan UST bertahan di atas 5,3%: yield SBN berpotensi naik (harga turun), tunggu.
Jika sesuai ekspektasi: tidak ada perubahan, tetap bertahap.
Jika risalah lebih lunak dan UST turun di bawah 5,2%: lanjutkan pembelian bertahap.
4Emas⚡ Selektif
Sumber: Refinitiv via CNBC Indonesia (3/10); Han Tan (Bybit) via Reuters; Trading Economics. Vs 28 Sep: tetap.

Emas spot ditutup di US$4.142,34, turun 3,36% sepekan dan melemah dua pekan beruntun, tertekan yield US Treasury dan dolar yang menguat. Edisi lalu menyarankan DCA saat lemah, dan penurunan harga belum otomatis berarti murah. Peluang kenaikan bunga The Fed pada Oktober turun, namun Desember masih mungkin (Trading Economics), dan kenaikan bunga AS yang berlanjut tetap menjadi risiko utama.

Sisi bull: Han Tan (Bybit) menyebut arah emas bergantung pada seberapa jauh The Fed menoleransi pelemahan pasar tenaga kerja, dan data NFP yang lemah memberi ruang bagi skenario itu. Sisi bear: selama The Fed bersikap hawkish, pelaku pasar masih enggan membeli.

Akses ritel: emas Antam (fisik atau tabungan emas lewat Pegadaian atau bank), atau reksa dana/ETF emas; perhatikan selisih harga jual dan buyback.
Decision tree: risalah FOMC (7/10) dan CPI AS (Rabu 14/10)
Jika risalah atau CPI menunjukkan inflasi tinggi dan peluang kenaikan bunga Desember membesar: emas berpotensi tertekan lagi, tahan penambahan.
Jika sesuai ekspektasi: tidak ada perubahan, DCA sesuai porsi.
Jika lebih lunak dan yield AS turun: tekanan mereda, tetap bertahap dan bukan sekaligus.
5Saham AS & Global⚡ Selektif
Sumber: Yahoo Finance (penutupan Wall Street 2/10 dan ulasan pasar), termasuk Sean McLaughlin (All Star Charts), Hardika Singh (Fundstrat), dan UBS. Vs 28 Sep: tetap.

S&P 500 ditutup di 7.722,72, naik 0,73% pada Jumat dan kurang dari 1% dari rekornya, meskipun yield 10 tahun berada di level tertinggi sejak 2002. Sisi bull: UBS memproyeksikan laba S&P 500 tumbuh 25% tahun ini dan 14% pada 2027, dan Sean McLaughlin menilai jalur terdekat cenderung naik. Sisi bear: Hardika Singh (Fundstrat) memperingatkan valuasi cenderung menyusut bila yield 10 tahun melewati 5,5%. Harga sudah dekat rekor sementara yield masih tinggi, sehingga masuk sekarang lebih mahal dan verdict tidak dinaikkan.

Currency risk: secara historis rupiah lebih sering melemah daripada menguat terhadap dolar dalam jangka panjang, sehingga eksposur ke aset USD cenderung menambah return dalam rupiah, namun ini bukan jaminan, dan dalam jangka pendek pergerakannya tetap bisa dua arah.

Akses ritel: reksa dana indeks saham global atau AS; UBS menyarankan sebaran lintas negara (AS, Eropa, Asia) untuk menyebar risiko. Beli bertahap, jangan mengejar kenaikan harga.
Decision tree: risalah FOMC (7/10) dan yield 10 tahun
Jika yield 10 tahun melewati 5,5%: risiko penurunan valuasi membesar, tahan penambahan.
Jika sesuai ekspektasi: tetap bertahap, tidak menambah ekstra saat harga naik.
Jika yield turun di bawah 5,2% dan laporan laba kuartal III kuat: lanjutkan pembelian bertahap sesuai porsi.
6Bitcoin⚡ Selektif
Sumber: Yahoo Finance (level harga akhir pekan), CNBC Indonesia Research (4/10). Vs 28 Sep: tetap.

Bitcoin berada di ≈US$85.300 per akhir pekan (aset diperdagangkan 24/7), naik ≈0,8% dari ≈US$84.600 pada 27 September. CNBC Indonesia (4/10) menyebut harga bertahan di sekitar US$85.000, dengan potensi koreksi ke area US$70.000-78.000. Tidak ada katalis baru yang terverifikasi pekan ini, sedangkan yield AS yang tinggi menjadi risiko bagi aset berisiko, sehingga verdict tetap dan kenaikan harga tidak dijadikan alasan menambah porsi.

Akses ritel: exchange berizin OJK/Bappebti, position sizing ketat 1-3% dari portofolio. Aset ini diperdagangkan 24/7.
Decision tree: level harga
Jika bertahan di atas US$85.000: tidak ada perubahan, tetap DCA sesuai porsi 1-3%.
Jika kembali ke sekitar US$80.000: area yang lebih masuk akal untuk membeli bertahap dibanding mengejar harga.
Jika turun menembus US$75.000: tahan penambahan sampai harga stabil.

Ilustrasi Alokasi Portofolio

Proporsi ilustratif berdasarkan aset paling relevan pekan ini, bukan saran personal. Total 100%. Sama dengan edisi 28 September karena verdict tidak berubah.

RD Pasar Uang/SRBI
25%
SBN
20%
Saham RI
20%
Saham AS/Global
20%
Emas
10%
Bitcoin
5%

Sumber referensi: CNBC Indonesia Research: “13 Sentimen Bayangi RI” (1/10) untuk yield UST 5,34%, SBN 7,159%, inflasi, PMI, reshuffle, short selling, dan penyebab kenaikan yield global; “Asia Dihajar Dolar” (3/10) untuk rupiah dan DXY; “Harga Emas Babak Belur” dan “Harga Minyak Jatuh, Pasokan 100 Juta Barel dari G7 Siap Masuk” (3/10) untuk emas, Brent, WTI, dan G7; “Awas! Pesta Pasar Kripto Berpotensi Terganggu” (4/10) untuk Bitcoin. Yahoo Finance: “The market has had every reason to sell off, and it hasn’t” untuk penutupan Wall Street dan UST 10Y serta komentar McLaughlin, Singh, dan UBS; liputan laporan tenaga kerja September; “10-Year Treasury yield touches highest level since 2002” (AlphaCheck). Trading Economics: yield US 10Y, berita 2/10 (penyebab, peluang Desember, puncak historis 15,82%). Reuters: judul “Bonds teeter after US Treasuries’ worst quarter since 1994” (1/10); halaman tidak dapat diakses dari sistem kami, sehingga tidak ada angka yang diambil langsung darinya dan kutipan Reuters hanya dipakai melalui CNBC Indonesia. Kontan, CNN Indonesia, dan Antara: IHSG sepekan, net sell asing (BEI via RTI Business), pandangan analis, rupiah. Bareksa: selisih SBN-UST, reksa dana pasar uang, SBR015. Katadata (28/9): batas harga minimum Rp1 dan GOTO. DDTCNews dan RCTI+ (pengesahan APBN 2027), Komisi XI DPR (1/9) dan Bisnis.com (2/7): asumsi RAPBN 2027. Keputusan The Fed 16 September: J.P. Morgan dan Kiplinger. Lampiran pengguna: ringkasan berita Perplexity (4/10) dan dua PDF kerangka yield Treasury (4/10) dipakai sebagai titik awal; angka yang bertentangan dengan sumber utama atau belum terkonfirmasi tidak dipakai (lihat bagian selisih antar sumber di bawah).

Catatan data KPI: Sumber: BEI via RTI Business dan Kontan (IHSG), Refinitiv via CNBC Indonesia (rupiah, SBN, emas, Brent, WTI), Yahoo Finance (UST 10Y, S&P 500, Nasdaq). WoW = closing Jumat 2 Oktober dibanding closing Jumat 25 September; angka mingguan rupiah, emas, Brent, dan WTI mengikuti CNBC Indonesia. Tanda ≈ = dihitung sendiri: YTD IHSG dari basis akhir 2025 (8.646,93); WoW SBN (basis 7,083%), UST (basis 5,18%), dan S&P 500 (basis 7.743,41) dari level edisi 28 September. Selisih kuotasi UST dan sumber lain dijelaskan di bawah.

Selisih antar sumber dan cara kami memilih:
– Yield UST 10 tahun Jumat: Yahoo Finance 5,28% dan Trading Economics 5,28% (kuotasi Minggu 5,26%) dipakai karena mencerminkan penutupan sesi AS dan sama dengan basis edisi lalu (Yahoo, 5,18%). CNBC Indonesia/Refinitiv mencatat ≈5,19% pada sesi Asia sebelum yield kembali naik di sesi AS; Trading Economics mencatat 5,175% intraday saat rilis NFP. Satu teks Trading Economics menulis 5,52% dan dua PDF lampiran mengulangnya; angka itu tidak konsisten dengan data lain dan tidak dipakai. Puncak 5,34% (CNBC Indonesia, Trading Economics) dan 5,33% (Yahoo) berbeda tipis karena kuotasi intraday.
– Rupiah: Refinitiv Rp17.868 dipakai karena basis edisi lalu (Rp17.880) juga Refinitiv; Bloomberg Rp17.882 dan JISDOR Rp17.898 (Kontan). Lampiran Perplexity menyebut rupiah “melemah” ke Rp17.600-18.000; tidak dipakai karena Refinitiv mencatat penguatan tipis 0,07% sepekan.
– IHSG: YTD ≈-30,2% dihitung dari basis akhir 2025 (8.646,93), konsisten dengan edisi sebelumnya; lampiran Perplexity menulis -25,64% (dan penurunan bulanan 9,46%, sedangkan Kontan mencatat September -7,95%), sehingga tidak dipakai. Net sell asing sepekan Rp4,32 triliun (Rp1,27 triliun pada Jumat) dipakai; angka Rp240,4 miliar adalah net sell harian 1 Oktober.
– Emas dan minyak: emas spot Refinitiv US$4.142,34 (-3,36%) dipakai; futures COMEX di Yahoo Finance US$4.162,30. Lampiran Perplexity menulis emas “US$1.800-1.850” serta Brent -4,4% dan WTI US$98; keduanya bertentangan dengan Refinitiv (Brent -1,98%, WTI US$91,11) sehingga tidak dipakai.
– Peluang kenaikan bunga The Fed pada Oktober menurut CME FedWatch: 14% (CNBC Indonesia, 86% hold), ≈20% (Yahoo Finance, pembukaan Jumat), dan 16-23% (lampiran Perplexity); kami menyebut kisaran 14-20%. Jadwal RDG BI Oktober adalah 20-21 Oktober (Bisnis.com), bukan pekan ini seperti tersirat pada lampiran Perplexity.
– GOTO: penurunan 14% ke Rp43 pada 28 September dikonfirmasi Katadata; penurunan mingguan 40% dan level Rp30 hanya ada pada lampiran Perplexity dan belum terkonfirmasi sumber utama, sehingga tidak dipakai. Klaim lampiran mengenai wewenang audit khusus Menteri Keuangan dan izin dana pensiun berinvestasi di luar negeri tidak ditemukan konfirmasinya. Data fiskal AS dan probabilitas skenario pada PDF analisis yield (utang di atas US$40 triliun, skenario 60/25/15) tidak terkonfirmasi sumber utama dan tidak dipakai.
– Kenaikan UST sebesar 87 bps pada kuartal III yang disebut terburuk sejak 1994 berasal dari agregator roic.ai, sejalan dengan judul Reuters (1/10); karena agregator, angka itu tidak dipakai pada isi artikel.
– Istilah “all time high” pada permintaan awal tidak sesuai data: yield 10 tahun AS tertinggi sejak 2002, sedangkan puncak historis 15,82% (Trading Economics).

Konten ini bersifat edukatif dan informatif, bukan merupakan rekomendasi, ajakan, atau paksaan untuk membeli atau menjual instrumen keuangan tertentu, dan bukan nasihat investasi personal. Setiap keputusan investasi menjadi tanggung jawab masing-masing investor dan perlu disesuaikan dengan profil risiko, tujuan, dan horizon investasi. Investasi mengandung risiko, termasuk kemungkinan kehilangan sebagian atau seluruh modal, dan kinerja masa lalu tidak menjamin kinerja masa depan. Data bersumber dari pihak ketiga yang dianggap andal, namun akurasi dan kelengkapannya tidak dijamin serta dapat berubah tanpa pemberitahuan. Konten disusun dengan memperhatikan prinsip kehati-hatian, transparansi, dan perlindungan konsumen sebagaimana diatur dalam peraturan OJK (POJK) yang berlaku.

Investour · Independent Financial Advisory · investour.id | @investour.id

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top