Kalau kamu mulai nabung dan investasi secara rutin sejak Januari 2016 — Rp1 juta setiap bulan, tidak putus — ke mana uangmu seharusnya pergi?
Kami simulasikan lima strategi investasi selama 10,5 tahun (Jan 2016–Jun 2026) dengan metode dollar-cost averaging (DCA): emas, S&P 500 ETF, saham BBCA, All Weather Portfolio (Ray Dalio), dan satu versi All Weather yang diadaptasi khusus untuk instrumen yang tersedia di Indonesia. Total yang masuk ke pasar: Rp126 juta. Hasilnya berbeda jauh — dan beberapa hasilnya cukup counterintuitive.
Simulasi interaktif di bawah ini bisa kamu atur sendiri nominalnya — dari Rp250 ribu hingga Rp5 juta per bulan. Hover ke grafik untuk lihat nilai di setiap titik waktu.
Simulasi ini untuk tujuan edukasi. Data berbasis return tahunan historis yang sebagian merupakan estimasi — bukan rekomendasi investasi. Lihat bagian Metodologi di bawah untuk detail lengkap asumsi dan sumber data.
Rp1 juta tiap bulan,
lima jalan yang berbeda jauh.
Setoran rutin sejak Januari 2016 hingga Juni 2026 — total Rp126.000.000 masuk ke pasar. Inilah ke mana uang itu tumbuh — termasuk satu versi All Weather yang diadaptasi untuk investor Indonesia.
Pertumbuhan saldo dari waktu ke waktu
Garis putus-putus = total uang yang sudah disetor. Jarak di atasnya = keuntungan. Arahkan kursor ke grafik untuk detail per bulan.
Rincian angka
| Aset | Nilai akhir | Profit | ROI | CAGR* | Tahun terburuk |
|---|
*CAGR = return tahunan setara (money-weighted/IRR) atas seluruh setoran bulanan. “Tahun terburuk” = return kalender terendah dalam rupiah — ukuran kasar seberapa berat guncangannya.
Performa tahunan per strategi
Return kalender tiap tahun dalam rupiah. Hijau = untung, merah = rugi — geser ke kanan untuk lihat semua tahun.
| Strategi | 2016 | 2017 | 2018 | 2019 | 2020 | 2021 | 2022 | 2023 | 2024 | 2025 | 2026·H1 |
|---|
2026·H1 = hanya Januari–Juni 2026 (belum genap setahun), jadi tidak sebanding langsung dengan kolom tahun penuh lainnya.
Emas dan S&P 500 menang besar — sebagian karena rupiah, bukan cuma asetnya. Dalam 10 tahun ini rupiah melemah dari ~Rp13.800 ke ~Rp17.900 per dolar. Aset berdenominasi dolar otomatis ikut terangkat saat dikonversi ke rupiah, di atas kenaikan harga aslinya. Emas dapat dua mesin sekaligus: reli harga emas global 2024–2025 plus pelemahan rupiah.
BBCA juru kunci — padahal sempat jadi bintang. Sampai 2024 BBCA naik berkali lipat. Lalu koreksi pasar 2025–2026 memangkas harganya ~45% dari puncak, tepat di ujung periode. Ini pelajaran klasik soal satu saham: konsentrasi tinggi + sensitif pada titik akhir. Geser tanggal akhir ke 2024 dan peringkatnya bisa terbalik total.
All Weather melakukan tugasnya: return moderat, tapi tahun terburuknya jauh lebih ringan (−10,0%) dibanding BBCA. Bukan untuk memenangi lomba — untuk tidur nyenyak saat pasar rontok.
AW Adaptasi (Indonesia) naik ke posisi 3 — Rp221 jt, CAGR 10,3%, mengungguli All Weather asli (Rp203 jt, CAGR 8,8%) di dua sisi sekaligus: return lebih tinggi dan tahun terburuk lebih ringan (−4,7% vs −10,0%). Kuncinya ada di sleeve SBN (25%) dan emas (20%) — dua aset yang justru menguat di 2022 dan 2025, tahun-tahun terburuk untuk obligasi global. Porsi 10% saham Indonesia tetap kena koreksi IHSG −37% di semester pertama 2026, tapi sleeve lain lebih dari menutupinya.
All Weather Portfolio: bagaimana cara kerjanya
Filosofi Ray Dalio bukan menebak arah ekonomi, tapi menyiapkan portofolio yang tetap “berdiri” di 4 skenario makro yang mungkin terjadi.
| Inflasi naik | Inflasi turun | |
|---|---|---|
| Pertumbuhan naik | Saham, komoditas | Saham, obligasi korporasi |
| Pertumbuhan turun | Emas, komoditas | Obligasi pemerintah jangka panjang |
AW menaruh sedikit dana di tiap kuadran: 30% saham AS (kuadran pertumbuhan), 55% obligasi pemerintah — 40% jangka panjang + 15% menengah (kuadran resesi/deflasi), dan 15% emas+komoditas (kuadran stagflasi). Hasilnya: selalu ada bagian portofolio yang “menyala”, apapun skenarionya — dengan trade-off return lebih rendah di tahun-tahun normal, dan tertekan saat suku bunga naik tajam (lihat 2022).
All Weather asli vs AW Adaptasi (Indonesia): apa yang diubah
Kerangka 4 kuadrannya dipertahankan persis — 30% saham / 55% obligasi / 15% emas. Yang diganti hanya instrumennya, agar bisa benar-benar diakses investor Indonesia.
| Fungsi / kuadran | All Weather (asli) | AW Adaptasi (Indonesia) |
|---|---|---|
| Pertumbuhan (saham) | 30% (saham AS luas) | 30% (20% S&P500 + 10% saham Indonesia) |
| Resesi/deflasi (obligasi durasi panjang) | 40% (obligasi AS 20+ th) | 25% (INDON/INDOIS, USD) |
| Stabilitas/income (obligasi menengah) | 15% (obligasi AS menengah) | 25% (SBN Indonesia) |
| Inflasi/stagflasi (emas + komoditas) | 15% (7,5% emas + 7,5% komoditas) | 20% (emas) |
1. Sleeve pertumbuhan tetap 30%, tapi sekarang 2/3 di AS dan 1/3 di Indonesia. Ini memberi exposure ke siklus pasar domestik — yang sering tidak sinkron dengan siklus AS — sekaligus tetap memprioritaskan AS yang historisnya lebih konsisten. Porsi 10% saham Indonesia kena koreksi IHSG −37% di semester pertama 2026, tapi kali ini sleeve lain cukup kuat untuk menutup selisihnya — lihat poin 3.
2. Sleeve resesi/deflasi dikurangi dari 40% ke 25%, diisi INDON/INDOIS — obligasi pemerintah Indonesia yang diterbitkan dalam dolar AS (INDOIS = versi syariah/sukuk). Karena berdenominasi USD, mekanismenya mirip obligasi AS jangka panjang: saat rupiah melemah, nilainya dalam rupiah ikut naik. Bedanya, harga INDON/INDOIS dipengaruhi yield obligasi AS dan credit spread Indonesia — saat krisis global, yield AS turun (menguntungkan) tapi spread Indonesia bisa melebar (merugikan), dua efek yang saling mengimbangi. Simulasi ini memakai proxy obligasi AS murni tanpa komponen spread, jadi return riil INDON/INDOIS kemungkinan sedikit lebih volatil di tahun-tahun stres kredit Indonesia (2018, 2025–2026) dibanding angka di sini.
3. Sleeve stabilitas/income diisi 25% SBN Indonesia, berbasis data resmi INDOBeX Government Total Return. Tahun terburuk SBN dalam 10 tahun ini cuma −1,0% (2018) — jauh lebih ringan dari yang diasumsikan sebelumnya. Yang lebih menarik: SBN justru menguat di 2022 (+3,4%) dan 2025 (+12,4%) — dua tahun terburuk untuk obligasi global (TLT −31% dan −8% dalam USD). Ini karena siklus suku bunga BI tidak selalu sinkron dengan The Fed — diversifikasi yang nyata, bukan sekadar “obligasi lain dengan nama berbeda”.
4. Sleeve emas dinaikkan dari 15% ke 20%. Komoditas luas (seperti DBC di AW asli) sulit diakses investor ritel Indonesia, jadi disederhanakan jadi emas saja dengan porsi sedikit lebih besar sebagai kompensasi — emas tetap jadi “pelindung” yang independen dari risiko Indonesia (SBN, INDON, saham domestik) maupun risiko AS.
Hasilnya: CAGR 10,3% vs 8,8% (AW asli) — lebih tinggi. Tahun terburuk −4,7% vs −10,0% — juga lebih ringan. AW Adaptasi (Indonesia) unggul di kedua metrik sekaligus, didorong terutama oleh SBN dan emas yang justru menguat saat obligasi global ambruk. Catatan penting: performa SBN yang kuat ini sebagian mencerminkan siklus penurunan suku bunga BI 2024–2025 — bukan garansi untuk siklus berikutnya, tapi menunjukkan bahwa diversifikasi domestik di sini nyata, bukan ilusi.
Metodologi & sumber data
- Periode: Jan 2016 – Jun 2026 (126 bulan). Setoran dianggap masuk tiap bulan, lalu tumbuh.
- Semua hasil dalam rupiah. Aset USD (S&P 500, All Weather, emas) sudah dikalikan perubahan kurs USD/IDR per tahun.
- Return dirakit dari data tahunan publik lalu disebar mulus per bulan — jadi naik-turun di dalam satu tahun tidak terlihat. Untuk perbandingan antar-aset, ini cukup adil karena semua diperlakukan sama.
- S&P 500 & BBCA = total return (termasuk dividen, BBCA ~2,5%/th). Emas = harga spot per gram, di luar premium toko/Antam (~12%). All Weather = 30% saham AS, 40% obligasi jangka panjang, 15% obligasi menengah, 7,5% emas, 7,5% komoditas, rebalancing tahunan.
- Angka 2025–2026 (emas, kurs, harga BBCA) berbasis data terkini dan sebagian estimasi — bukan harga penutupan resmi. Anggap ilustrasi, bukan patokan presisi.
- AW Adaptasi (Indonesia) = 20% S&P 500 + 10% saham Indonesia (proksi IHSG) + 25% INDON/INDOIS (obligasi pemerintah Indonesia berdenominasi USD, proksi: sensitivitas obligasi AS jangka panjang → IDR, tanpa komponen credit-spread Indonesia) + 25% SBN Indonesia (berbasis INDOBeX Government Total Return, data resmi 2021–2025; estimasi untuk 2016–2020 & 2026·H1) + 20% emas, rebalancing tahunan. Return saham Indonesia & INDON/INDOIS→IDR tetap estimasi berbasis data publik & kurs tahunan — bukan NAV/harga penutupan resmi instrumen spesifik.
- Tanpa pajak, biaya beli/jual, dan biaya pengelolaan. Kinerja masa lalu tidak menjamin hasil ke depan. Bukan rekomendasi investasi.
Simulasi ini murni untuk edukasi. Tujuannya bukan menunjukkan “aset mana yang paling cuan”, tapi bagaimana setiap aset punya peran berbeda dalam sebuah portofolio — dan bagaimana hasil 10 tahun bisa sangat berbeda hanya karena titik akhir yang berbeda 1–2 tahun.
Punya pertanyaan soal alokasi portofolio yang sesuai dengan profil risiko dan tujuan keuanganmu sendiri? Diskusi dengan tim Investour.
